Interpretasi Lagu Gemilang dari Perunggu
Oke kita balik lagi sama interpretasi lagu lebih mendalam versi saya, disclaimer dulu ini adalah sifatnya subjektif dari saya pribadi ya, setiap orang bebas memaknai lagunya seperti apa dan bagaimana, lets go
kita mulai dari bait liriknya yang awal
Terjilat
Matahari timur yang kejam
Sengat melekat bahuku
Perlukah?
Menepi menyisi sebentar?
Tapi ku wajib tepat waktu
Matahari timur yang kejam
Sengat melekat bahuku
Perlukah?
Menepi menyisi sebentar?
Tapi ku wajib tepat waktu
Bait ini seperti menceritakan upaya dan usaha untuk selalu menjaga ibadah, terutama sholat, karna sholat adalah tiang agama, jika solatnya acak acakan, ga akan lama kehidupannya juga akan acak-acakan. Maka dari itu ini mengingatkan untuk senantiasa menjaga waktu sholat, dari kata "Terjilat" ini seperti gesernya matahari memasuki waktu Duhur, dilanjut dengan "Matahari timur yang kejam" karna terik dan panas dan seperti membawa asal tempat dari agama Islam itu sendiri yaitu dari Timur, alias Mekkah Madinah. lirik "Sangat melekat bahuku" ini ibaratnya mungkin tanggung jawab yang memang harus dipenuhi sebagai seorang muslim, yaitu tanggung jawab untuk senantiasa beribadah kepada Allah sebagai bentuk konsekuensi keyakinan, dan itu harus ditunaikan dengan sepenuh hati dan sepenuh raga. Dilanjut dengan lirik selanjutnya yang menjadi pertanyaan paling dalam, "Perlukah?" dan harus dijawab dengan PERLU BANGET, sangat perlu karna sholat adalah sebagai pengingat, kalo kita adalah makhluk yang menghamba kepada Allah, sebagaimana dalam Q.S. Tho-Ha ayat 20 : وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ لِذِكْرِيْ : "sholatlah kalian untuk mengingatKu".
"Lirik selanjutnya ini untuk menegaskan akan pelaksanaan dan pengamalan sholatnya ibaratnya mungkin posisinya diperjalanan, walaupun dalam keadaan perjalanan yang memang bisa di mudahkan dengan ibadah jama' atau qasar, tapi disini ibarat berusaha semaksimal mungkin untuk menjalankan ibadah sholat pada tepat waktu, seperti liriknya "Tapi ku wajib tepat waktu".
Kita lanjut ke bait berikutnya
Keluhan demi keluhan
Segera kugilas perlahan
Karena ini yang kumau
Berkah kepala yang batu
semua yang ragukan atau tak percaya
Debu pagi kujelang
Bait ini mungkin lebih ke Sholat dan pemaknaannya mungkin yaa, jika menurutku lirik "keluhan demi keluhan segera kugilas perlahan" ini sebagai bentuk keresahan hidup yang harus di adukan kepada Allah dengan cara melaksanakan sholat, karena memang manusia memiliki sifat yang berkeluh kesah sebagaimana dalam Q.S. Al-Maarij ayat 19: اِنَّ الۡاِنۡسَانَ خُلِقَ هَلُوۡعًا ۙ " Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh", dan dalam tafsir al muyassar disebutkan sebagai solusi atas keluh kesah adalah dengan sholat, maka dilanjutkan dengan lirik "Segera kugilas perlahan" karna sudah melakukan sholat maka keluhan itu tergilas alias sudah terhempas dan tidak lagi menjadi keluhan melainkan sebuah harapan. dilanjut dengan lirik "Karena ini yang kumau" kehidupan di saat ini mungkin adalah harapan atau doa doa kita dimasa yang lalu maka dari itu jangan mengeluh, gapapa mengeluh karna memang tabiat manusia tapi ada solusinya yaitu dengan sholat, karna sholat adalah doa dan harapan. Terlebih dalam doa dan harapan dan usaha, mungkin selaras dengan ayat al-Quran dalam surat Hud ayat 15-17, Terjemahannya sebagai berikut; ayat 15: Siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, pasti kami berikan kepada mereka sebagai balasan perbuatan mereka di dalamnya dengan sempurna dan mereka di dunia tidak akan dirugikan,, ayat 16: Mereka itulah orang orang yang tidak memperoleh sesuatu di akhirat kecuali neraka, sia-sialah apa yang telah mereka usahakan (di dunia), dan Batallah apa yang dahulu selalu mereka kerjakan. ayat 17 : apakah orang yang sudah mempunyai bukti yang nyata (Al-Qur'an) dari Tuhannya, diikuti oleh saksi dari-Nya, dan sebelumnya sudah ada pula Kitab Musa yang menjadi pedoman dan rahmat, mereka beriman kepadanya (sama dengan orang kafir yang hanya menginginkan kehidupan dunia)? siap yang mengingkarinya (Al-Qur'an) dari golongan golongan (penentang Rasulullah) nerakalah tempat kembalinya. oleh karena itu, janganlah engkau ragu terhadap Al-Qur'an. Sesungguhnya Al-Qur'an itu kebenaran dari Tuhanmu, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman
Dari ayat 15-16 seperti keresahan dari lirik "Karena ini yang kumau" rasanya tidak benar jika kita hanya menuruti ego saja, padahal sudah jelas kehidupan dunia yang kita minta tidak ada apa apanya. Jika tergolong pada orang orang yang tidak beriman dengan Agama Islam, sehingga orang orang yang tidak beriman hanya akan mendapat balasannya di dunia saja sedangkan di akhirat nihil, sehingga orang yang tidak beriman ini dinyatakan dalam liriknya sebagai kepala yang batu "Berkah kepala yang Batu". samai dipertegas pada ayat 17 yang menyatakan keraguan orang yang tidak beriman tentang Al-Qur'an, di lirik "Semua yang ragukan atau tak percaya" padahal sudah ada kitab kitab terdahulunya dan bukti bukti lainnya, lantas ada alasan apalagi sampai tidak mengimani Al-Qur'an dengan segala perintah dan larangan yang ada di dalamnya. Dan pada lirik terakhir dalam bait ini sebagai bentuk kesiapan dan penuh kesadaran "Debu pagi kujelang" metafora dari bentuk perjuangan atau rutinitas yang melelahkan atau juga sebagai perjalanan hidup harus dihadapi dan harus disiapkan dengan persiapan yang sesuai dengan keimanan dan keyakinan tanpa ada keraguan sebagai bentuk penghambaan manusia sebagai makhluk kepada Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang diyakini.
Bait selanjutnya adalah reflektif dari kondisi atau perjalanan sang musisinya alias sebagai penjelas bait sebelumnya yang "Debu pagi kujelang" proses perjalanan hidup
Tak Teras
Sebelas tahun t'lah berselang
Masih terasa di bahuku
Beban yang Bercampur bangga t'lah kurengkuh
Semua berpihak kepadaku
Sang musisi ingin menceritakan kisahnya bahwa memang segala sesuatu yang ia doakan dan harapkan di dunia sudah berpihak kepadanya, sebagai bentuk rasa syukur, sebgaiman dalam Q.S. Ibrahim ayat 7, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambahkan (nikmat) kepadamu". Walaupun awalnya adalah beban tapi pada akhirnya adalah kebahagiaan dunia dan akhirat.
Bait selanjutnya mungkin sebagai menyokong support sistem dari keberlangsungan perjalanan hidupanya
Pasti doamu yang lancarkan upayaku
Mesti doa yang meluncur dari bibirmu
Dan yang kutahu kau takkan pernah berhenti
Tumbuhku kini semoga sesuai yang kau impi
Tertulis jelas namaku
Di setiap harap malammu
Tentang masa depan, tentang masa terang
Warisan akal budi gemilang
The power of Do'a IBU, seorang ibu akan senantias mendoakan anak-anaknya, sehingga anaknya menjalani hari-hari dengan penuh keberkahan, Doa ibu sangatlah mujarab, bahkan diriwatkan dalam sebuah hadis
: ثلاثُ دَعَواتٍ لا تُرَدُّ : دعوةُ الوالدِ ، و دعوةُ الصائمِ ، و دعوةُ المسافرِ
" Ada tiga doa yang tidak akan tertolak: kesatu, doa orang tua kepada anaknya, kedua, doa orang orang yang berpuasa, dan ketiga doa orang yang sedang safar (H.R. Al-Baihaqi)
Dari doa-doa ibu penuh dengan harapan bahwa kelak anaknya menjadi orang yang sukses dunia akhirat, sehingga pada lirik "Tumbuhku kini semoga sesuai yang kau impi", pasti anak akan selalu menjadi harapan orangtuanya, dan semoga anakmu yang sekarang sesuai dengan harapanmu ya wahai ibuku.
Begitu juga dengan bait selanjutnya masih menjelaskan Do'a Do'a yang dipanjatkan ibu, doa yang senantiasa di lantunkan di sepertiga malamnya, kadang kita tidak tahu ibu kita rela bangun di tengah malam untuk menunaikan shalat tahajud dan pasti mendoakan anak-anaknya yang terbaik sesuai dengan harapan harapan, baik itu tentang masa depan anaknya ,semoga sukses, di lirik "Tentang masa depan, tentang masa terang".
Pada lirik terakhir ini sebagai bentuk ikhtiar orang tua terhadap harapan Do'a-Do'a yang ia panjatkan setiap malam, orangtua akan mewariskan segalanya yang ia punya, tapi yang paling penting sesuai dengan lirik ini "Warisan akal budi gemilang" warisan terbaik orangtua kepada anaknya bukanlah harta, tahta ataupun jabatan, melainkan warisan akal, warisan pendidikan dengen menyekolahkan yang baik, memilihkan sekolah yang baik, mendukung perkembangan akal yang baik, hingga ada suatu moment dimana ayah saya pernah bilang "Bapak mah gapunya apa-apa buat diwarisin, cuman bisa nyekolahin kamu dengan baik aja, kalo sekolah pasti bapak upayakan dengan giat, ayo terus lanjut sekolahnya" huhuhu sedih banget kalo inget ini.
Bait selanjutnya adalah sebagai bentuk usaha yang dilakukan seoarang anak dengan harapan-harapan orangtuanya.
Pelan pasti ku kabulkan
S'gala catatn harapmu
Tentang masa depan, tentang masa terang
Kebul jalan kuterjang.
Sebagai bentuk khidmat dan penghormatan setinggi-tingginya seoarang anak kepada orangtuanya, dan itu memang sudah seharusnya, bahkan di dalam Al-Qu'ran tidak sedikit ayat yang menyinggung keharusan seorang anak berbakti kepada orangtuanya, misal dalam Q.S. Al-Isra: 23-24 (berbuat baik karena perjuangan ibu dan larangan untuk tidak berkata kasar). Q.S. Luqman: 14 (berbalas budi atas pengorbanan ibu karna sudah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah), Q.S. Al Ahqaf ayat 15, bahkan dalam Q.S. An-Nisa ayat 36, Q.S. Al-An'am ayat 151, seperti sebuah sindiran bahwa tentang berbuat baik kepada kedua orang tua harus di laksanakan, bahkan di sandingkan dengan musyrik sebagai bentuk pengingatnya,
Q.S. Al An'am 151 : أَلَّا تُشْرِكُوا۟ بِهِۦ شَيْـًٔا ۖ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا ,
Q.S. An-Nisa:36 : وَٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا۟ بِهِۦ شَيْـًٔا ۖ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا
, banyak banget deh pokoknya perintah dan kewajiban untuk menghormati kedua orangtua kita, banyak pengorbanan yang dilakukan pastinya,
Maka dari itu di lirik "Pelan pasti ku kabulkan" ini adalah bentuk usaha sang anak untuk membahagiakan orangtuanya, dengan berusaha melakukan segala hal yang ia bisa lakukan untuk menjadi seseorang yang sesuai dengan Do'a dan harapan orangtua, lirik "S'gala catatan harapmu" ini seperti wishlist doa harapan orangtua dan sebisa mungkin anak tidak ingin mengecewakan harapan orangtuanya, sesuai liriknya "Tentang masa depan, tentang masa terang". Harus di upayakan dan harus semangat menjalani hidup, hingga pada lirik "Kebul jalan kuterjang", sebagai bentuk pemberontakan akan segala upaya apapun diusahakan untuk membahagian orangtuanya, dengan cara maksimal dan sebagai bentuk berbuat baik dan berbakti kepada orangtua.
Sekian interpretasi lagu "Gemilang" karya perunggu versi saya.
Liriknya dalem banget bahasannya, mulai dari ibadah sebagai bentuk tanggung jawab dan konsekuensi dari keberagaman, doa seorang ibu yang mujarab, dan harapan harapan yang senantiasa para orangtua inginkan itu terjadi kepada anaknya, dan ditutup dengan bentuk semangat yang gigih seoarang untuk berbakti kepada orangtuanya.
Terimakasih kepada penulis lagu ini, Petra Sihombing, Enrico Octaviano, Adam Adenan, Ildo Hasman dan Maul Ibrahim,
Terimakasih yang sudah membaca dari awal sampai akhir
Komentar
Posting Komentar