Manusia Si Perekam Handal
Saat masih bayi, kita sering merasa paling tenang ketika pantat ditepuk-tepuk dengan lembut. Menariknya, kenyamanan ini bukan muncul begitu saja. Banyak kajian menyebutkan bahwa sensasi tersebut berkaitan dengan pengalaman kita ketika masih berada di dalam kandungan, khususnya efek ritmis dari detak jantung ibu yang terus-menerus dirasakan janin. Pengalaman itu terekam begitu kuat, seolah menjadi memori paling awal dalam tubuh manusia, sedalam itu rekamannya.
Kondisi sebagai janin sejatinya mengajarkan dua hal utama: rasa nyaman dan rasa aman. Dua rasa ini kemudian terus “ditagih” oleh tubuh, bahkan setelah kita tidak lagi menjadi janin dan telah lahir sebagai bayi. Tubuh seakan berusaha mempertahankan kondisi ideal yang pernah ia kenal sebelumnya.
Jika ditarik lebih jauh, berapa lama sebenarnya proses “perekaman” ini berlangsung? Dalam perspektif Islam, terdapat hadis yang menyebutkan bahwa ruh ditiupkan ke dalam janin pada usia 120 hari atau sekitar empat bulan. Sejak saat itu hingga masa kelahiran di usia sembilan bulan, terdapat rentang waktu sekitar lima bulan. Artinya, ada kurang lebih 150 hari atau sekitar 3.600 jam pengalaman berulang yang dialami janin dalam kondisi relatif sama.
Dalam ilmu perilaku dan neuropsikologi, pengulangan dalam waktu panjang inilah yang membentuk pola otomatis dalam tubuh. Tanpa disadari, tubuh belajar, mengingat, lalu merespons berdasarkan kebiasaan yang telah terekam. Karena sudah terbiasa, tubuh kemudian “membutuhkan” pola tersebut untuk kembali merasa stabil.
Di sinilah kita bisa memahami betapa kuatnya pengaruh kebiasaan dalam kehidupan manusia. Ketika seseorang terbiasa melakukan hal-hal yang merugikan, tubuh secara perlahan akan menagihnya kembali. Sebaliknya, ketika seseorang membiasakan diri dengan kebaikan, tubuh pun akan menagih kebaikan itu. Pada akhirnya, manusia diberi kebebasan untuk memilih kebiasaan apa yang ingin dibentuk, karena Allah telah menanamkan potensi itu dalam diri manusia:
فَأَلۡهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقۡوَىٰهَا
“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketakwaannya.” (QS. Asy-Syams: 8)
Lebih jauh lagi, tubuh manusia tidak hanya merekam kebiasaan, tetapi juga menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan tempat ia berada. Semakin lama suatu kebiasaan berlangsung, semakin kompleks pula sistem tubuh yang terbentuk untuk menyesuaikan diri dengan kondisi tersebut. Misalnya, seseorang yang tinggal lama di Bandung dengan udara sejuk, suasana relatif tenang, dan minim kebisingan lalu tiba-tiba harus pindah ke Kota Cilegon yang bercuaca panas, lingkungan industri yang aktif, dan penuh suara bising. Perpindahan ini dapat memunculkan keresahan, bukan semata karena lingkungannya berubah, tetapi karena tubuhnya belum memiliki “rekaman” yang selaras dengan kondisi baru tersebut.
Hal serupa juga dapat dilihat pada wara kulit manusia. Pigmen gelap pada kulit (melanin) merupakan bentuk adaptasi tubuh terhadap paparan sinar matahari yang tinggi. Sebaliknya, kulit yang lebih terang berkembang pada lingkungan dengan paparan sinar matahari yang lebih rendah. Namun, ketika seseorang dengan kulit terang tinggal lama di wilayah dengan paparan matahari tinggi, tubuhnya perlahan akan meningkatkan produksi melanin sebagai bentuk perlindungan. Semua ini menunjukkan bahwa tubuh selalu belajar, merekam, dan menyesuaikan diri.
Dari sinilah muncul konsep adaptasi dan penyesuaian diri. Kita berupaya menata ulang rekaman-rekaman lama, membentuk kebiasaan baru yang lebih selaras dengan kondisi saat ini. Dengan begitu, manusia dapat kembali mencapai kehidupan yang lebih tenang, seimbang, dan membahagiakan.
Kita hari ini adalah hasil dari kebiasan-kebiasaan kita di masa lampau
Komentar
Posting Komentar